Nasib Jadi Fakir Wi-Fi Gratis Di Bandara Dubai…

By | September 28, 2016

DUBAI, KOMPAS.com – Transit delapan jam di Bandara Internasional Dubai, banyak yg mampu dilakukan. Mulai dari cuci mata barang-barang branded di bagian duty free, ngopi-ngopi di kafe, hingga duduk-duduk santai sambil menunggu penerbangan. Semuanya bakal menyenangkan, dalam bayangan saya.

 

Iya, ternyata itu cuma dalam bayangan aku yg sangat menikmati jalan-jalan dengan kelancaran internet di ponsel saya.  Saya membayangkan internet di salah sesuatu bandara terbesar dan terbaik di dunia ini bakal bebas seperti di Bandara Changi, Singapura.

 

Dengan kelancaran internet, aku mampu membandingkan harga, browsing, bermain media sosial, demi membunuh kebosanan ketika menunggu penerbangan berikutnya.

 

Sejak pesawat yg menerbangkan aku dan rombongan ke Dubai mendarat di Terminal 3, Senin (26/9/2016) siang waktu setempat, aku telah mencari free Wi-Fi. Begitu juga dengan teman-teman seperjalanan saya. Semua kompak mengeluarkan ponsel buat memburu Wi-Fi gratis tersebut.

 

Tercantumlah DBX Free WiFi. Oh yes!!! Klik, berharap langsung on dan mampu menghubungi keluarga di Jakarta. Tetapi, ternyata ada syaratnya. Harus meng-install salah sesuatu aplikasi yg menolong para traveler mendapatkan hotel dengan harga diskon. No problem. Nanti aplikasinya mampu dienyahkan setelah keluar dari Dubai, pikir saya.

 

Ana Shofiana Syatiri Free WiFi di Bandara Internasional Dubai.

Ternyata, Wi-Fi internet gratis yg aku harapkan mulai unlimited dan seharian, cuma berlaku sesuatu jam. Ya, tetap saja harus disyukuri. Alhamdulillah gratis, gitu lho.

 

Saya pun memanfaatkan buat mengecek e-mail, WhatsApp, media sosial lainnya, hingga menelepon via internet ke keluarga terdekat bagi mengatakan bahwa aku telah sampai di Dubai dengan selamat.

 

Sambil berjalan keliling, aku selalu terhubung dengan teman-teman di Jakarta melalui WhatsApp. Sedang asyik mengobrol ngalor-ngidul, tiba-tiba WhatsApp saya jam pasir. Waktu gratis itu pun habis. Kalau mau lanjut, harus bayar 4,95 dollar AS per jam. Glek… skip deh. Ngobrol via WhatsApp pun menggantung.

 

Teman-teman aku pun mengalami hal serupa. Sambil menertawakan betapa “pelitnya” penyedia internet gratis di Dubai, dia membandingkannya dengan di Jakarta.

 

“Di bus transjakarta aja sekarang telah gratis Wi-Fi, masa bandara segini besar kalah sama transjakarta, ha-ha-ha…,” celetuk salah seorang kawan.

 

Akhirnya kalian keliling bandara ini sambil celingak-celinguk. Mau belanja pun tanggung karena kalian belum sampai tujuan. Kalau belanja, artinya tidak mengurangi beban barang bawaan. 

 

Setelah 30 menit keliling, akhirnya kalian mati gaya lagi. “Oh internet,” celetuk salah sesuatu dari kalian disambut tawa dari yg lain.

 

Akhirnya, muncul ide buat nongkrong di kafe yg menyediakan internet gratis. Kami pun memilih salah sesuatu kafe yg berada di dekat Gate B24. Setelah memesan minuman, kita meminta akses internet yg terproteksi dengan password. 

 

Pelayan itu kemudian memberikan secarik kertas kecil. Ternyata, internet gratis di kafe tersebut pun dibatasi, cuma 30 menit. Tidak lebih. “Ya, salaaam…,” batin saya.

 

Saya pun mencobanya dengan teman-teman. Tambah ngenes, ternyata username dan password di secarik kertas itu cuma berlaku buat sesuatu device. Ya ampun.

 

Ketika salah seorang teman mengorder minuman lagi, dia meminta beberapa carik kertas berisi sandi-sandi yg dapat memperlama nyawa internet di ponsel. Tetapi, permintaan itu ditolak mentah-mentah.

 

“One order, one WiFi,” kata pelayan itu dengan tegas. Okelah….

 

Kami pun akan sibuk dengan gawai masing-masing. Ada yg mengirim e-mail buat urusan bisnisnya, ada yg chatting, seperti saya.

 

Saya sampai memperingatkan lawan chatting aku di Jakarta bagi langsung mempercepat ceritanya. 

 

“Ayo cepat, waktunya tinggal beberapa menit lagi,” tulis saya.

 

“Aduh, ini udah ngebut banget ngetiknya. Ha-ha-ha….”

 

Ana Shofiana Syatiri Kursi tunggu di Bandara Dubai.

Dan, sebelum ceritanya berlanjut, koneksi telah terputus. Akhirnya kita cuma duduk-duduk manis di kursi tunggu bandara tersebut sampai waktu penerbangan berikutnya.

 

Sepanjang perjalanan, susahnya mencari Wi-Fi gratis di bandara ini menjadi bahan bercandaan kami. Begitulah nasib fakir Wi-Fi di Dubai….

Sumber: http://travel.kompas.com