Inya Lake, Tempat “Nongkrong” Muda-mudi Yangon

By | October 12, 2016

YANGON, KOMPAS.com – Hari itu Kota Yangon seperti diselimuti kabut tipis. Jika Yangon adalah foto, ibaratnya ada yg mengaplikasikan filter vintage di depan mata. Kesan gloomy begitu terasa, tidak ada secercah pun sinar matahari, asap limbah bus-bus tua mengepul tidak henti-henti.

Waktu itu sekitar pukul 17.00 waktu Yangon, Myanmar. Saya melangkahkan kaki dari lobby Hotel Mulia, yg baru dibuka pada September 2016, ke Inya Lake yg berada persis di seberangnya. 

Mirip dengan Ho Chi Minh City di Vietnam, menyeberang jalan di Yangon mutlak sebuah rintangan. Namun bedanya, tidak ada motor di Yangon dan semua Myanmar. Hal itu dibenarkan Nang Hla May, pemandu wisata yg mengantar KompasTravel bersama rombongan Tourism Authority of Thailand (TAT).

“Sejak dahulu tak ada motor di Myanmar. Berbahaya buat keselamatan,” tuturnya kepada KompasTravel

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Inya Lake, Yangon, Myanmar.

Alasannya semudah itu saja. Padahal, ketika kalian menyeberang jalan, nyawa tetap jadi taruhan. Mobil dan bus tidak henti-hentinya mengebut. Bus yg jadi transportasi umum di Yangon berasal dari Jepang, namun umurnya mungkin telah belasan hingga puluhan tahun. Ketika “batuk”, bus itu mengeluarkan asap hitam legam yg mengapung selama dua detik di udara.

Menggunakan intuisi yg tersisa, aku menyeberang jalan pelan-pelan. Mobil dan bus tetap mengklakson meskipun aku berada di jalur penyeberangan.

Begitu datang di pinggir Inya Lake, sebuah gerobak rujak mangga segera mangkal di depan mata. Setelah memerhatikan lekat-lekat, rupanya si penjual menyuguhkan manisan mangga yg dipotong tipis-tipis kemudian diberi cabai bubuk. Persis mangga potong yg banyak ditemukan di pinggir jalan kota-kota di Indonesia.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Rujak manisan mangga khas Myanmar di pinggir Inya Lake, Yangon.

Rumput hijau menghampar dari sini. Naik dua tangga, aku pun datang di bibir danau. Bising dan hiruk-pikuk lalu-lintas tidak lagi terdengar.

Beberapa muda-mudi asyik berfoto ria di pinggir danau. Mereka mengenakan longyi, sarung khas Myanmar, dalam beragam motif dan warna. Longyi digunakan oleh segala kalangan di Myanmar, tidak terbatas gender atau status sosial.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI “Longyi”, begitu nama sarung khas Myanmar. Sarung ini digunakan baik oleh laki-laki maupun perempuan.

Inya Lake adalah danau terbesar di Yangon. Danau ini dikelilingi taman seluas 14 hektar yg disebut Inya Lake Park. Sebelah utara Inya Lake adalah Parami Road, sebelah barat adalah Pyay Road, sebelah barat daya adalah Inya Road, sebelah selatan adalah University Avenue, dan sebelah timur adalah Kaba Aye Pagoda Road. 

Deretan jalan yg berkeliling Inya Lake yaitu kawasan paling elit di Kota Yangon. Hanya ada dua bangunan yg segera menghadap danau, antara yang lain tempat tinggal Aung San Suu Kyi dan Kedutaan Besar AS. 

Tak banyak yg tahu, Inya Lake adalah danau buatan yg dahulu digunakan sebagai waduk. Bangsa Inggris membangun danau ini pada 1882-1883 sebagai sumber air tawar di Yangon.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Inya Lake adalah danau buatan yg lalu digunakan sebagai waduk. Bangsa Inggris membangun danau ini pada 1882-1883 sebagai sumber air tawar di Yangon.

Selain nongkrong, rupanya Inya Lake juga terkenal sebagai tempat memadu kasih. Saat menyusuri pinggiran Inya Lake di Kaba Aye Pagoda Road, tampak dua muda-mudi sedang berduaan di pinggir danau. Mereka menikmati sore dan menunggu matahari terbenam.

Setengah jam kemudian, aku kembali mengumpulkan nyali buat menyeberang ke Hotel Mulia. Namun kali ini, dengan sebungkus rujak mangga seharga 500 Kyat (Rp 5.000) di tangan.

Sumber: http://travel.kompas.com