Wisata Ke Borobudur, Tengok Juga Tulip Di Dieng…

By | November 16, 2016


KOMPAS.com
– Tantangan. Dari sekian kata di kamus bahasa, inilah yg barangkali paling mewakili cerita dan kegelisahan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo soal pengembangan pariwisata di provinsinya. Ada apa?

“Apa yg tidak ada di Jawa Tengah? Dari wisata alam, religi, budaya, sampai tematik, seluruh ada,” ujar Ganjar ketika berbincang dengan Kompas.com pada medio Juli 2015.

Setahun berlalu, dalam momen yg hampir mirip, Ganjar kembali menyinggung hal tersebut. “Tahu tidak, (tanaman bunga) tulip saja yg orang kira cuma ada di Belanda, itu juga ada di Jawa Tengah, ada di Dieng!” ungkap dia.

Menurut Ganjar, sesuatu saja yg belum juga kunjung tersedia di provinsinya. “Paket wisata yg membuat orang tahu benar apa saja isi Jawa Tengah, yg terorganisir dengan bagus, memberi kepastian untuk wisatawan datang,” papar dia.

(Baca juga: Yakin Sudah Tahu Banyak soal Borobudur?)

Ganjar pun berpendapat, wisatawan terutama dari mancanegara pada dasarnya butuh paket yg membuat mereka mampu memperhitungkan waktu perjalanan, menerima fasilitas seperti penginapan yg sesuai perkiraan, dan atraksi yg memang layak disambangi jauh-jauh.

Permintaan itu mampu saja terdengar sederhana. “Tapi ya itu tantangannya. Ada atau tak yg dapat menyediakan dan mengelola perjalanan wisata seperti itu secara rutin, berkelas, dan memberikan kepastian?” tanya dia.

KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT Matahari terbit di belakang Gunung Sundoro kelihatan dari Bukit Sikunir, Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu (1/11/2014). Dieng menawarkan keindahan sekaligus ancaman, karena dataran tingginya terbentuk dari gunung berapi yg kini masih mengeluarkan gas.

Bayangkan, kata orang asli Purworejo ini, suatu hari ada paket wisata yg menawarkan “Taman Tulip di Puncak Dieng”. Kumpulan bunga tulip, lanjut dia, disusun sedemikian rupa sehingga memuncullkan tulisan “Dieng” laiknya “Hollywood” di California.

“Semua tinggal pengemasannya. Iya, pengemasan buat potensi wisata Jawa Tengah. Itu tidak dapat cuma dari pemerintah apalagi pemerintah daerah. Ayo, siapa milik ide? Konkret ya. Datang ke saya, kami bahas dan siapkan eksekusinya,” ujar dia.

Terlebih lagi, imbuh Ganjar, Jawa Tengah milik Candi Borobudur di Kabupaten Magelang.  Harusnya, ujar dia, ini jadi modal awal buat menata potensi yang lain pariwisata di sini.

Menjawab tantangan

Candi Borobudur yaitu episentrum dari lingkaran kawasan wisata yg membentang dari Semarang hingga Yogyakarta. Tak terbilang pesona wisata ada di radius tersebut. Itu belum menghitung kawasan pesisir utara Jawa Tengah, dengan pesona yg berbeda lagi.

Sebagai sesuatu dari 10 destinasi prioritas, Candi Borobudur dan kawasan sekitarnya milik radius pesona yg merambah Semarang, Salatiga, Boyolali, Klaten, Yogyakarta, Magelang, dan area Dieng. Targetnya, beberapa juta wisatawan mancanegara bakal bertandang ke kawasan ini pada 2019.

Dengan target jumlah kunjungan tersebut, harapannya ada devisa 2 miliar dollar AS masuk dari kawasan ini. Sebelumnya terdata cuma 250.000-300.000 wisatawan mancanegara datang di Candi Borobudur dan sekitarnya.

(Baca juga: Rp 20 Triliun buat Candi Borobudur)

Kajian Kementerian Pariwisata mendapati, setidaknya juga ada tiga kategori wisata yg masih mampu dikembangkan lebih jauh di kawasan ini.

ARSIP BIRO HUKUM DAN KOMUNIKASI PUBLIK KEMENPAR Prosesi larungan merupakan menghanyutkan rambul gimbal yg telah dipotong dan dimasukkan ke kendi bersama sesaji di Telaga Warna, Dieng, Minggu (7/8/2016).

Rinciannya, wisata alam, wisata budaya, serta wisata man made seperti atraksi, kawasan terintegrasi, dan kegiatan bersama (meeting, incentive, convention, dan exhibition, disingkat MICE).

“Promosi dan pengembangan potensi pariwisata seperti ini tidak dapat cuma mengandalkan sesuatu atau beberapa stakeholder. Semua kalangan harus ikut berkiprah, kalau hasilnya juga mau kelihatan langsung nyata,” kata Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kementerian Pariwisata, Dadang Rizki Ratman, ketika berbincang dengan Kompas.com, dua waktu lalu.

Penggarapan destinasi, lanjut Dadang, juga butuh keterlibatan banyak pihak. “Termasuk buat pengembangan potensi bisnis dan industri pariwisata,” ujar dia.

(Baca juga: Buat Apa “Ngurusin” Pariwisata)

Kabar baiknya, apa yg diminta kepada Ganjar soal akses segera ke beragam lokasi wisata di radius destinasi prioritas Candi Borobudur telah bertambah. Akses bagi menikmati pesona Candi Borobudur dan kawasan sekitarnya , misalnya, semakin beragam.

Pembenahan infrastruktur gencar dikerjakan buat mendukung destinasi prioritas ini. Bandara,  tidak mulai lagi cuma mengandalkan Bandara Adisutjipto di Yogyakarta.

KOMPAS,COM/ M Wismabrata Bandara Adi Soemarmo Surakarta, Boyolali

Saat ini selalu dikebut pembangunan bandara di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lalu, Bandara Adi Soemarmo di Solo, Jawa Tengah, juga telah dinyatakan menjadi hub kawasan selatan buat rute penerbangan salah sesuatu maskapai nasional.

Ada lagi. Jalur kereta yg menghubungkan tiga bandara tersebut juga mulai diaktifkan kembali, menyambung rute yg telah ada dari Jakarta ke Surabaya. Rencananya, mulai ada pula aktivasi jalur kereta dari Yogyakarta ke Magelang.

“Jalur kereta itu kan sangat baik kalau dikoneksikan dengan jalan kereta yg ada, Jakarta-Yogyakarta-Solo-Surabaya. Jadi mampu dibayangkan nanti orang dari Jakarta mau ke Borobudur mampu langsung,” ungkap Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, seperti dikutip Kompas.com, Kamis (10/11/2016).

Budi berkeyakinan, rencana ini mulai mewujudkan transportasi terintegrasi, cepat, dan efisien, bagi mendukung pengembangan destinasi prioritas Candi Borobudur dan kawasan di sekitarnya.

Masyarakat dapat milik saham

Menteri Pekerjaan Umun dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menambahkan, upaya memperluas akses menuju destinasi prioritas ini mulai menghadirkan pula rencana pembangunan jalan tol dan pembenahan jalan nasional.

Ridwan Aji Pitoko/Kompas.com Konstruksi Jembatan Tuntang sepanjang 370 meter yg yaitu bagian dari Seksi 3 Tol Semarang-Solo yg menghubungkan ruas Bawen-Salatiga, Selasa (26/4/2016).

“Ini masih mulai kalian kaji dahulu apakah butuh jalan tol (sampai ke Borobudur) atau cukup jalan nasional saja. Untuk jalan tol telah ada Jalan Tol Cileunyi-Cilacap-Yogyakarta-Solo dan Yogyakarta-Bawen yg harus disinkronkan,” tutur Basuki.

(Baca juga: Jalur Kereta dan Jalan Dikembangkan buat Akses ke Borobudur)

Transportasi darat dari arah Semarang, bagaimana pun tidak dapat dinafikan, setidaknya merujuk pada riset Kementerian Pariwisata. Di situ disebutkan, sebagian pengunjung Candi Borobudur dan kawasan sekitarnya pun kerap tiba melalui Semarang.

Di Semarang ada Stasiun Tawang dan Poncol, yg dilalui kereta api dari Jakarta, lewat jalur pantai utara Jawa. Kota ini milik pula Bandara Ahmad Yani, yg melayani pula penerbangan segera dari Jakarta.

Ada pula di sini, Pelabuhan Tanjung Emas, akses jalur laut terdekat menuju Candi Borobudur dan sekitarnya.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA Turis dari Eropa yg memakai kapal pesiar Minerva datang di Pelabuhan Tanjung Emas, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (7/1/2013). Turis yg berkunjung ke Jawa Tengah diperkirakan meningkat seiring dengan banyaknya kapal pesiar yg mulai bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas. Pada tahun 2011 terdapat 17 kapal pesiar yg bersandar dan tahun 2013 diperkirakan naik menjadi 26 kapal. Kunjungan singkat selama sesuatu hari bagi berwisata di Borobudur dan Museum Kereta Api Ambarawa.

“Berdasarkan paparan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, setiap beberapa minggu sekali ada cruise yg singgah ke Pelabuhan Tanjung Emas dengan membawa 1.000-2.000 wisatawan mancanegara,” tulis riset tersebut.

Wisatawan itu rata-rata turun di Pelabuhan Tanjung Emas dan melanjutkan perjalanan darat ke Candi Borobudur. Namun, lanjut riset itu, mereka cuma milik waktu sesuatu hari buat langsung kembali ke pelabuhan dan berlayar lagi. 

Untuk segala rencana pengembangan tersebut, anggaran senilai Rp 20 triliun disiapkan. Separuh nilainya berasal dari kas negara dan selebihnya ditawarkan kepada investor.

”Anggaran Rp 20 triliun tersebut nantinya mulai digunakan bagi pembangunan infrastruktur di areal seluas 5.000 hektar di kawasan menuju Candi Borobudur,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya, dalam jumpa pers seusai pertemuan terbatas dengan Presiden Joko Widodo di Taman Wisata Candi Borobudur, Jumat (29/1/2016).

Infrastruktur dasar yg mulai dibangun, sebut Arief, antara yang lain jalan, listrik, dan penyediaan air bersih. Rapat tersebut diikuti pula oleh Ganjar,  Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X, dan Bupati Magelang Zaenal Arifin.

Menurut Arief, pengelolaan dan pengembangan kawasan Candi Borobudur mulai dikerjakan secara terintegrasi oleh Badan Otorita Borobudur. Badan ini mencakup pemerintah; PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko; serta masyarakat.

”Masyarakat nantinya berkesempatan memiliki golden share. Mereka mampu memiliki saham tanpa ada kewajiban menyetor,” ujar Arief.

Kompas.com/Ika Fitriana Para Biksu dan umat Buddha menerbangkan lampion di pelataran Candi Borobudur, Magelang, dalam rangka perayaan Tri Suci Waisak 2560 BE, Sabtu (21/5/2016) dini hari.

Nah, siapa berani menjawab tantangan Ganjar dan milik saham bagi pengembangan Candi Borobudur dan kawasan di sekitarnya ini?

Kalaupun belum tertantang atau berminat buat kedua hal itu, Anda yg gemar berwisata pun tetap dapat ikut menolong mengenalkan destinasi prioritas Indonesia. Caranya, bagikan saja cerita Anda lewat media sosial.

Dalam setiap unggahan di media sosial, cantumkan tanda pagar (tagar) atau hashtag #ceritadestinasi. Untuk Twitter dan Instagram, sebutkan pula @ceritadestinasi saat mengunggah cerita atau foto.  Cerita panjang Anda mampu pula diunggah di Facebook lewat fan page Cerita Destinasi.
Sumber: http://travel.kompas.com