Terjerat Pesona Toyama

By | November 16, 2016

Pukul 11.15 kalian sampai di Kota Toyama. Sam Gomisawa yg mewakili Pemerintah Daerah Toyama menjemput kalian di Bandara Toyama. Menggunakan minibus jumbo yg mulai kita pergunakan bagi berkeliling tiga prefektur, siang ini Sam membawa kalian ke kota Shinminato. Dia membawa kita ke sebuah tempat belajar membuat sushi di Shinminato Sushi Academy.

Kiranya siang hingga petang ini aku mulai diajak menikmati pesona Toyama dalam bentuk karya, akan dari karya kuliner hingga karya kerajinan tangan.

Kini kalian sampai di Shinminato Sushi Academy. Tempat ini dulunya adalah sebuah restoran sushi yg cukup terkenal. Namun seiring waktu, popularitas sushi akan turun. Untuk mempertahankanhh tradisi kuliner ini, maka pemiliknya menjadikan tempat ini sebagai sebuah academy bagi mengajari para pengunjung, baik lokal maupun asing belajar membuat sushi.

Ya, sushi adalah makanan Jepang yg terdiri dari nasi yg dibentuk bersama lauk (neta) berupa makanan laut, daging, sayuran mentah atau telah dimasak. Nasi sushi mempunyai rasa masam yg lembut karena dibumbui campuran cuka beras, garam, dan gula.

Pada awalnya, sushi  yaitu istilah buat salah sesuatu macam pengawetan ikan disebut gyosh? yg membaluri ikan dengan garam dapur, bubuk ragi atau ampas sake.

Sushi dikenal sebagai makan siang, itulah sebabnya kalian segera digiring ke tempat ini berbarengan  dengan waktu yg menunjuk pukul 12.00 siang waktu setempat.

Daidai San menyambut kalian dan segera mengarahkan ke dapur pembuatan sushi. Masing2 dari kita disediakan sesuatu piring nasi dengan dua toping berupa irisan ikan tuna, salmon, mata sebelah, cumi, makarel, anago (belut laut), telur ikan salmon (ikura).

Pak Daidai yg master sushi itu mengajari kita cara menjumput nasi seberat 200 gram. Lantas membentuknya di telapak tangan yg setengah ditangkup. Untuk selanjutnya ditekan-tekan secara lembut. Baru setelah terbentuk, kalian meletakkan irisan ikan di atasnya. Setelah nasi dan irisan ikan, telur dadar dan telur ikan terpasang, kita mendapatkan delapan sushi yg harus kalian santap sebagai menu makan siang. Hmmm… Asyik juga ternyata, membuat sushi sendiri, dimakan sendiri.

***
Usai berfoto dengan Pak Daidai yg memberi kalian selembar sertifikat pernah belajar sushi di Shinminato Sushi Academy, kita pun melanjutkan perjalanan ke pasar ikan Shinminato Kitokito Market.

Di perjalanan, nampak burung gagak dan camar berseliweran di angkasa Teluk Toyama. Sementara  di kejauhan  kapal Kaiwomaru yg legendaris itu lego jangkar di sana. Gelar “Ratu Lautan” memang pas bagi disematkan pada kapal yg megah dengan 29 layar raksasanya. Sayang hari masih sore, jadi kita tidak mampu menyaksikan gemerlap lampu-lampu di sekeliling taman dan kapal.

Sampai di pasar ikan, tampak gambar Beni-Zuwaigani atau kepiting merah terpasang seperti memberi ucapan selamat datang.

Sedemikian populernya Beni-Zuwaigani di kota ini. Maklummlah,  Beni-Zuwaigini adalah makanan laut yg paling terkenal dari Teluk Toyama, terutama pada musim dingin. Beni Zuwaigani adalah sejenis kepiting merah yg dimasak sampai teksturnya terasa lembut dan manis. Bagian yg paling enak dari Beni-Zuwaigani adalah Miso Kani Kaya. Kepiting merah ini bisa dinikmati dalam hidangan hot pot seperti kani nabe dan kani suki. Kepiting ini memiliki ukuran yg lebih besar dan memiliki lebih banyak daging, bahkan kaya mulai kandungan nutrisi.  

Untuk menangkap kepiting ini konon harus ekstra hati–hati agar cangkangnya tak rusak atau pecah dan tak mulai menghilangkan rasa khas dari Beni-Zuwaigani.

Di tempat ini pelbagai biota laut dijual. Mulai dari ikan, kepiting, kerang, hingga cumi-cumi.

Kami tidak lama di sini. Hari akan sore, sementara masih ada dua tempat yg harus kita kunjungi. Setelah berpamitan kepada dua petugas di pasar ikan itu, kalian bergegas ke Kuil Kyoukuu-Ji.

Di  sana sudah menunggu pendeta senior dari generasi ke-25. Wajahnya menyiratkan kesejukan. Beliau dulu menerangkan tentang kuil tersebut, termasuk fungsi dari ruang2 dan filosofi taman yg terdapat di halaman belakang. Di taman itu ada pohonan yg telah ratusan tahun usianya, ada kolam. Sementara di latar belakang ada bukit. Semua ini, kata pendeta, menyimbolkan alam Jepang yg dikelilingi gunung dan berbatasan dengan laut.

Sebelum berpamitan, aku sempat mencicipi teh hangat dan kue manis. Hmmmm….

Kami mengakhiri kunjungan hari itu di sebuah galeri kerajinan timah bernama Han Bun Ko. Oleh  pemiliknya yg bernama Ayaka Kita aku diajari membuat cawan dari timah, akan dari mempersiapkan bejana yg diisi pasir padat, mengecor timah panas, hingga mengamplas. Proses pembuatan yg berlangsung selama sesuatu jam itu berakhir dengan manis. Sebab, setelah cawan jadi ternyata dihadiahkan buat saya. Arigato Ayaka San!

Sumber: http://travel.kompas.com