Indonesia-China Sepakat Tertibkan Pelaku Industri Pariwisata

By | November 16, 2016

SHANGHAI, KOMPAS.com – Kementerian Pariwisata dan Administrasi Nasional Pariwisata China (CNTA), sepakat buat menertibkan pelaku industri pariwisata yg tak profesional dan merugikan wisatawan.

“Kami setuju bagi di-black list, karena pariwisata adalah bisnis yg berbasis pada layanan, sehingga komitmen dan profesionalitas ekosistem ini menjadi taruhan penting agar dapat berkelanjutan,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam rapat dengan Ketua CNTA Lin Jinzao serangkaian China International Travel Market (CITM) di Shanghai 11-13 November 2016.

(BACA: Biro Perjalanan China Janji Promosikan Indonesia)

Menurut Menpar, operator perjalanan dan agen perjalanan wisata yg melanggar komitmen dengan pelanggannya harus ditindak tegas. Pelaku industri pariwisata yg tak profesional mulai sangat mengganggu dan merusak masa depan bisnis sektor pariwisata.

CNTA sudah melakukan dua ketentuan buat menertibkan pelaku industri pariwisata seperti biro perjalanan wisata yg tak profesional bagi memberikan kenyamanan kepada turis selama berwisata di China.

KOMPAS/MUKHAMAD KURNIAWAN Pemandangan di The Bund, salah sesuatu lokasi favorit turis, di Jalan Zhongshan Shanghai, Tiongkok, Minggu (23/8/2015). Selain berfoto, lokasi itu menjadi titik kumpul yg ramai buat menikmati kota yg bertabur cahaya pada malam hari.

Terkait CITM, Menpar Arief mengatakan, “Pertama kalian tentu berterima kasih kepada China karena semakin banyak turisnya yg berkunjung ke Indonesia”.

“Saat ini posisinya telah nomor sesuatu ke Indonesia, menggeser Singapura, Malaysia, Australia, Jepang dan Korea. Tahun 2019 proyeksi kita adalah 20 juta wisman masuk ke Indonesia, dan sekitar 50 persennya atau 10 juta di antaranya berasal dari China,” katanya.

Terkait itu, kerja sama pariwisata dengan China menjadi sangat utama buat dikembangkan. Kemenpar juga mulai semakin fokus kepada promosi ‘Great China’ merupakan China, Hongkong dan Taiwan.

(BACA: Garap Turis China dan India, Indonesia Perlu Penerbangan Langsung)

Pada kesempatan tersebut Menpar kembali menekankan program penguatan konektivitas melalui penerbangan segera yg selalu dikembangkan.

Penerbangan segera dari China ke Indonesia ketika ini masih teramat minim, rata-rata 37 persen, jauh dibandingkan Singapura, Malaysia apalagi Thailand yg telah berada di atas 80 persen.

ARSIP KOMPAS TV Pulau Kemaro di Palembang, Sumatera Selatan.

Menpar juga kembali mengundang investor China bagi menanamkan modalnya di Indonesia, khususnya di sektor pariwisata.

“Kami undang investor China yg bergerak di sektor pariwisata buat menanamkan modal ke Indonesia, yg milik atraksi berbasis alam, budaya dan buatan yg sedang berkembang. Saatnya kini bagi investasi jangka panjang di bidang pariwisata,” katanya.

Dalam CITM 2016 Indonesia mempromosikan sepuluh destinasi unggulan antara yang lain Yogyakarta, Solo, Semarang (Joglosemar), dengan menampilkan Candi Borobudur dan Raja Ampat.
Sumber: http://travel.kompas.com