Jalan Raya Bogor, Dari Pangkalan Kuda Hingga Laksa Lezat

By | November 16, 2016

SEBELUM Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels membangun Jalan Raya Pos dari Anyer hingga Panarukan, ia disebut membangun akses Batavia-Buitenzorg dulu. Jalan sepanjang 38 kilometer itu jadi akses penting Jakarta-Bogor, hingga Jalan Tol Jagorawi dibangun tahun 1974.

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels” menyebutkan, pada mulanya Daendels memerintahkan perbaikan dan pelebaran jalan Anyer-Batavia. Hal itu diawali dari lamanya waktu tempuh yg dibutuhkan dari Anyer menuju Batavia yg mencapai empat hari. Setelah diperlebar, waktu tempuh cuma sesuatu hari.

Ia kemudian melanjutkan dengan ruas jalan Batavia-Buitenzorg (Bogor) yg disebut Pram, dibangun tanpa hambatan yg berarti karena medannya yg datar. Hambatan berbeda ditemui ketika Daendels membangun ruas jalan Buitenzorg-Karangsembung (wilayah Cirebon) yg harus menembus gunung-gunung tinggi.

(BACA: 5 Tempat Wisata Sekitar Bogor yg “Instagramable”)

Jalan raya Batavia-Buitenzorg disebut Jan Karel Kwisthout dalam buku “Jejak-jejak Masa Lalu Depok” yaitu jalan yg lebih baru dibanding ruas jalan terusan yg sejajar dengan Sungai Ciliwung yg telah ada pada abad ke-18. Karel mengatakan, jalan yg dibangun Daendels terletak lebih ke timur dan disebut Grote Postweg (Jalan Pos Besar).

Padahal, gagasan membangun Jalan Raya Pos itu baru muncul ketika Daendels melakukan perjalanan darat pada 29 April 1808 dari Buitenzorg ke Semarang dan Oosthoek atau Jawa Timur. Dalam perjalanan, ia mengambil keputusan membuat jalan dari Bogor ke Karangsembung sepanjang 250 kilometer.

Berbeda dengan pembangunan Jalan Raya Pos yg banyak kisahnya, seperti adanya kerja paksa rakyat pribumi dan banyaknya jiwa yg dikorbankan, pembangunan jalan raya Bogor atau ruas Batavia-Buitenzorg tak meninggalkan banyak jejak cerita. Mungkin hal itu disebabkan tak adanya hambatan berarti yg muncul sebagaimana diungkapkan Pram.

Jalan Batavia-Buitenzorg membentang 38 kilometer dari Cililitan hingga Kedung Halang, Kota Bogor. Namun, penanda kilometer dihitung dari Monas, sehingga totalnya 55 kilometer. Sejajar dengan Jalan Raya Bogor ada saluran buatan, yg kini dikenal sebabai Kalibaru.

Beberapa bangunan tua yg masih tampak di ruas jalan ini ialah Pabrik Tepung Tapioka di Cibinong, Bogor, yg terbesar pada zamannya, juga viaduk (jembatan di atas jalan) punya PDAM.

Pipa yg ada di viaduk itu, ujar Kepala Satuan Kerja Metropolitan III Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Winarto, sejak dahulu mengalirkan air dari Bogor ke Istana Presiden di Jakarta.

Bangunan yang lain di Jalan Raya Bogor rata-rata telah berganti dengan bangunan lebih baru. Pohon asem di kanan-kiri jalan kini banyak yg hilang. Rata-rata cuma sisi jalan bersebelahan dengan Kalibaru yg masih ditumbuhi mahoni dan asem. Di seberangnya, pepohonan berganti menjadi bangunan.

Sumber: http://travel.kompas.com