Yuk Petik Belimbing Ngringinrejo Di Tepi Bengawan Solo

By | September 26, 2016

BOJONEGORO, KOMPAS.com – Ukuran buahnya lebih besar, warnanya kuning matang, lebih banyak air, dan tentunya lebih manis dari belimbing macam lainnya. Kulit buahnya lebih empuk dan tak gampang layu.

Untuk kualitas tertentu, sesuatu buah belimbing beratnya mampu mencapai hampir 1 kilogram.  Ada yg diberi nama Bangkok Merah, Blantong, hingga belimbing madu. Belimbing madu ukurannya lebih kecil, warnanya kuning kemerah-merahan, dan rasanya lebih manis.

Sementara belimbing bangkok ukurannya lebih besar. Belimbing berbagai macam tersebut dapat dipetik, disantap, atau dibeli segera dari pemilik pohonnya di kebun belimbing agrowisata Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Di kawasan agrowisata buatan tersebut, pengunjung tak cuma bisa segera memetik belimbing, dengan membayar retribusi Rp 2.000 sekaligus dapat menikmati suasana asri tepian sungai terpanjang di Pulau Jawa, yakni Sungai Bengawan Solo.

“Belimbing madu harganya lebih mahal, meskipun ukurannya kecil, tetapi lebih manis,” kata salah sesuatu pemilik pekarangan belimbing, Ika Heliyanti, warga desa Ngringinrejo kepada KompasTravel belum lama ini.

Harga sesuatu kilogram belimbing madu mampu mencapai Rp 13.000, sementara harga rata-rata macam lainnya cuma Rp 11.000. Harga tersebut mengalami kenaikan sejak musim kemarau, karena petani melakukan perawatan ekstra terhadap pohon dan buahnya.

Sebelumnya, harga rata-rata belimbing cuma Rp 9.000 per kilogram.

Warga setempat tak memberi nama khusus kepada produk agro yg mengubah kehidupan mereka dua tahun terakhir. Warga cuma memberi nama desa yang berasal di belakang nama buah tersebut, menjadi ‘belimbing ngringinrejo’.

Priyo Sulistyo, ketua Kelompok Sadar Wisata Agro Jaya, Desa Ngringinrejo, juga tak mengetahui pasti bagaimana yang berasal usul sehingga belimbing ngringinrejo menjadi unggul dari sisi ukuran dan rasa.

“Yang aku tahu, macam belimbing yg dikembangkan warga adalah hasil persilangan dari belimbing yang berasal sejumlah daerah seperti Tuban, Banten, Blitar, Tulungagung,” ujarnya.

Warga juga membuat produk olahan hasil belimbing ngringinrejo seperti sari buah, sirup, dodol, hingga keripik belimbing. Sayangnya sebagian warga menghentikan produksinya, karena dianggap hasilnya tak sebanding dengan ongkos produksinya.

Akhirnya, menurut Priyo, kebanyakan warga lebih memilih menjual segera dalam bentuk buah segar. Para pemilik pekarangan tak cuma menjual belimbing, tetapi juga menjual beragam macam dagangan pendukung seperti sambal rujak, makanan ringan, minuman, hingga suvenir berupa kaos, dan busana lainnya.

Agrowisata Belimbing Ngringinrejo membentang lebih dari 20 hektare di tepi Bengawan Solo, yg membelah Kabupaten Bojonegoro.

Sumber: http://travel.kompas.com